December 18, 2019

Teruntuk hati yang mudah sendu


entah sudah berapa tahun berlalu..
kalau dengar lagu ini masih saja sendu.
merasa dikuatkan dan diingatkan.
bahwa hari esok akan selalu ada.

sepahit apapun perpisahan,
ada hal manis yang layak dikenang.
seburuk apapun kesalahan,
ada esok yang setia menunggu perubahan.
jika merasa sendiri,
hanya selalu ingat bahwa banyak yang mencintai.
jika merasa tak mampu hadapi,
hanya selalu ingat bahwa banyak hal yang telah berhasil dengan sekuat tenaga dilalui.

December 8, 2019

Mendewasakan dewasa


Aku pernah mempunyai kesempatan mengajar anak usia TPA sampai mahasiswa.
Pernah mengajar di kampus negeri maupun beberapa kampus swasta. Beberapa diantaranya berlatar belakang agama dan aturan yang berbeda. Hal itu membuat respon serta interaksi dengan mereka berbeda-beda pula. Saat pertama kali tatap muka, pastilah aku merasa kesulitan atau sekedar deg-degan. Setiap semester berlalu, ada saja yang mengingatkan masa lalu. Beberapa dari mereka bahkan tak sekedar menyampaikan pesan kesan, pun memberiku bingkisan.
Waktu berlalu..
Aku menyibukkan diri dengan anakku.
Aku fikir, inilah tantangan terbesar dalam hidup.
Mengasuh, mendidik, dan menemani ia bertumbuh.
Memang benar.
Namun ada yang lebih besar yang masih harus aku latih.
Ada hal di lingkungan yang perlu diperhatikan.
Lingkungan baru, dengan berbagai konsep hidup masing-masing individu.
Namun ternyata..
Menjadi ibu, membuatku lebih mampu mengontrol diri.
Untuk sabar, walau belum tingkat final.
Untuk selalu belajar, rendah hati, serta jujur terlebih pada diri sendiri.
Menjadi ibu, membuatku mampu mengerem emosi saat ada yang meremehkan.
Membuatku mampu mengerem keinginan saat yang lain berlomba-lomba memamerkan.
Menjadi ibu, memang suatu titik balikku dalam kehidupan.
Dimana aku tak lagi peduli dengan omongan dan apa-apa yang memang bukan menjadi kebutuhan.

- Elfira -

October 8, 2019

Tentang resign yang terburu-buru

Akhirnya aku nulis!
@annisast udah lama banget memotivasi aku secara tidak langsung buat nulis, tapi entah kenapa semua draft nggak enak rasanya untuk aku publish. Apa karena tulisan-tulisanku emang dasarnya curhat ya, makanya ngerasa nggak pantes dibaca khalayak.
Saat ini kak Icha lagi bahas tentang resign. Tergelitik kembali. Biasanya aku cuma respon pembahasan dia di Instagram Story, but now aku pengen sekalian tulis aja di blogpost.

Mulanya April 2017, bulan pertama menikah masih LDR dan aku tinggal di rumah mertua. Banyak yang bilang awal pernikahan emang cobaan banyak amat ya hahahaha. Kerasa sih. Untungnya aja April-Mei itu banyak longweekend dan suamiku rajin banget bolak balik nyamperin aku. Tapi kemudian seketika aku terguncang pas ibu mertuaku bilang ke aku, "Terus besok gimana, kudu dipikirin, masa mau bolak balik, apa mau tetep kerja disini atau gimana". Yang saat itu kayaknya otakku belum sempurna atau faktor hamil muda masih sensitif banget, aku langsung mutusin sendiri untuk OK AKU BAKAL SEGERA RESIGN.

Rencana awal aku dan suami mantep tentang kapan aku resign, yaitu akhir tahun. Dimana aku bakal udah hamil 9 bulan untuk tinggal bareng dia. Tapi ternyata beberapa situasi nyadarin aku, pertama: fakta bahwa kami pengantin baru dan tidak saling kenal. Kami baru bertemu Desember 2016 akhir dan menikah Maret 2017, 5 tahun enggak pernah ketemu dan komunikasi sama sekali setelah lulus SMA, ngebuat aku ngerasa kalau kami perlu penyesuaian dan kenal lebih jauh lagi sebelum status berubah dari suami-istri ke ayah-ibu.
Kedua: fakta bahwa sesantai apapun, sepercaya apapun kami satu sama lain, ada aja yang ngebuat kami mikir kalau bakal ada kesempatan untuk selingkuh. Oke, ini bukan tuduhan ke pasangan lho. Situasinya gini, pernah nggak sih kamu ngalamin masa dimana kamu tu engga suka sama orang tapi orang itu ngebet banget ke kamu, walaupun kamu udah nikah, nah situasi-situasi yang begini nih yang bisa bikin salah paham kalau orang ketiga ada diantara kita. Ketiga: fakta bahwa YAUDAH SIH DISANA (IKUT SUAMI) BAKAL GAMPANG NYARI KERJAAN JUGA. Tetoooot! Emang mulut harus banyak ngomong doa, jangan asal ngegampangin yah. You know what I mean.

Oke setelah beberapa fakta itu, bisa aku simpulin sih. Apakah nyesel resign? Sebenernya engga. Engga nyesel karena alasan-alasan itu. Ditambah lagi, ternyata aku tipe yang suka banget di rumah bareng anak. Pas hamil emang berat banget, sensitif, berantem sama suami karena nggak ada yang bikin sibuk. Tapi semenjak anak lahir, seketika jadi orang tersibuk. Termulti talenta. Teraktif. Terbaik melakukan semua hal. TERCAPEK JUGA HEHEHE. Aku kerjain semua sendiri, nggak ada tuh bagi-bagi tugas ke suami ya karena emang dia nggak mau juga. I'm happy. Sibuk sama anak bikin happy. Tapi kadang juga pengen diapresiasi bahwa aku ngelakuin hal-hal super, walaupun nggak pernah diapresiasi, yaudah nggak sedih juga sih HAHAHAHA. Yang penting aku bangga sama diri sendiri. Apresiasi dari diri sendiri yang paling penting, kan?

Jadi, kenapa sekarang kepengen kerja lagi? Pertama: duit. Nggak boleh ngomongin rumah tangga, tapi kalau semua orang punya perhitungan dan rencana masa depan, nggak bakal tabu kan kalau aku bilang pengen punya duit banyak. Kedua: aku ngerasa anakku sudah besar, sudah cukup baik aku urus, dan aku pengen dia nyobain sekolah sama temen-temennya. Ketiga: pengen nantang diri sendiri aja, kalau aku kerja apa rumah bakal berjalan seperti sekarang juga? Kalau aku kerja apakah aku akan punya power untuk atur tugas rumah tangga? Penasaran.

Oke, selagi itu belum terjadi. Marilah belajar dan mempersiapkan diri. Semangat!

November 8, 2018

Bisa nggak sih?

.
setelah wisuda,
aku belajar untuk menjaga ucapanku tentang kelulusan orang lain;
saat menjalani pekerjaan,
aku belajar untuk tak bertanya pada orang lain tentang berapa besar yang ia dapat;
saat memutuskan untuk kuliah lagi,
aku tak mau disuruh-suruh mengajak yang lain untuk "ayo lanjut kuliah"
saat merasakan kebahagiaan menjadi pengantin baru aku belajar untuk tidak bertanya pada orang lain tentang: "kapan nyusul?"
saat mendapati bahwa aku mengandung,
akupun belajar tak membebani pertanyaan kepada orang lain dengan "gimana, kamu udah isi?"
saat aku memilih menjadi ibu rumah tangga dan membesarkan anakku di rumah,
aku semakin banyak belajar dan membaca sudut pandang.
aku belajar untuk tidak mencampuri urusan orang dengan pertanyaan-pertanyaan.
aku belajar bahwa setiap orang punya perjuangan.
aku belajar memahami kondisi orang, memahami keputusan-keputusan.
aku belajar untuk mencerna bahwa memang tiap orang itu beda-beda, dan berbeda itu tidak apa-apa.
.
sebagai pengingat untuk
stop memberi saran tanpa diminta,
stop menyudutkan sebuah pilihan,
stop membandingkan dan berbicara di belakang.
.
jujur, buatku menjadi ibu menguras segala waktuku untuk mempedulikan orang lain.
jika aku masih peduli padamu, berarti kamu adalah spesial untukku.
.
***
dulu, senengnya punya temen banyak, kemana-mana ada aja yg kenal,
ada aja yg ngajak ngobrol.
padahal mungkin cuma kenal aja.
padahal mungkin banyak diomongin nananina.
padahal mungkin mereka ga nganggep temen.
ya karena kenal memang belum tentu temenan :)
.
sekarang jadi tau,
untuk tuker pikiran ataupun minta saran,
nggak harus nyari seorang teman,
tapi yang jelas harus yang berkenan hehe
.
Elfira,

yang semakin lelah mencari teman yang -- "kita bisa nggak sih, santai aja"

January 18, 2018

hello, world!

3 Januari 2018

Telah lahir putra pertama kami ‘Arka Bhadrika Rasendria’.
Nama ini kami ambil dari bahasa Sansekerta.
Arka berarti matahari;
Bhadrika berarti gagah berani;
Rasendria berarti cerdas, berhasil dengan baik, beruntung..

Jadi dengan nama tersebut, besar harapan kami agar kelak Arka menjadi lelaki yang gagah berani, cerdas, berhasil dengan baik, dan selalu beruntung seperti matahari yang dapat menyinari dunia.

Mohon doa restu agar Arka dapat tumbuh dengan sehat serta menjadi anak yang sholeh, aamiin.

Dengan penuh cinta,
Agung & Elfira



October 15, 2017

Tak selemah itu

Jika memang pada akhirnya aku tak berhasil meyakinkan diriku sendiri,
maka kita saatnya aku merubah prinsipku.

Pernikahan sejatinya memang untuk ibadah.
Sudah cukup disitu saja.
Maka dengan itu,
aku tak akan lagi merasa “kekurangan kasih sayang”.

Maka aku hanya akan melakukan segala sesuai ajaran.
Tak perlu lagi segala rasa berlebihan.
Toh tak ada bedanya.
Komitmen hanya menua bersama, bukan?

Dengan itu aku tak akan pernah lagi merasa bahwa tak seimbang.
Jadi kalau kau memilih melakukan banyak kesalahan,
kau sendiri yang menanggungnya.
Ingat bahwa aku sering mengingatkanmu.
Walau kau sendiri yang sering mematahkan itu.

Hubungan tak selemah itu.

Di Ujung Persimpangan -yang Kebanyakan Orang Menyebutnya “Masa Lalu”

Sebenarnya apa yang membuat seseorang bertahan untuk selalu melakukan hal yang sama secara berulang?
Seperti memikirkan seorang lain yang sebenarnya hal itu akan sangat menyakitkan.
Pernikahan memang sebuah komitmen untuk “menua” bersama. Melakukan segalanya demi ibadah semata.
Namun, apakah tak apa jika satu pihak terus merasa tak nyaman akan sesuatu yang membelenggu?
Sedang pihak kontra, ia serasa tak kian paham bahwa apa yang ia lakukan membuat tak nyaman.
Namun terkadang, semua orang memilih diam.
Enggan membahas karena ketakutan akan segala jawaban yang tentunya bisa lebih menyakitkan.
Entah penjelasan relevan ataupun tidak, pasti telah menggores luka pada perannya masing-masing.
Sedang satunya, ia hanya berusaha menenangkan semua kecurigaan sementara.
Bertingkah meredam amarah yang kelak sebenarnya bisa kembali.
Pada titik ini, kuberikan kembali argumenku yang lalu.
Bahwa yang mampu mengerti diri kita adalah kita sendiri dengan segala pikiran logika yang kadang tak sama dengan orang lain.

Benar bukan?

July 4, 2017

Biarkanlah

Aku tau, bukan waktuku untuk membandingkan.
Tapi, ijinkan ku untuk kembali mengembalikan keyakinanku.
Bahwa kau hadir dalam hidupku, benar dengan sepenuh kasih sayang.
Biarlah aku memberimu waktu memperlihatkan kasih sayang yang selama ini tak kau tunjukkan.
Salahku terlalu mengenalmu pada masa-masa lalumu.
Namun aku tetap yakin,
bukan salah waktu yang kita pilih singkat dalam menentukan keputusan untuk mengarungi kehidupan.


Aku, terlalu sering merasa kita tak seimbang.

July 3, 2017

bagaimanapun

Kala itu ku sempat tanyakan,
apakah dengan segala yang terjadi, kedekatan tetap terjalin?
Ia pun mengiyakan.

Bahwa benar bukan,
curiga, amarah, ketidakjujuran tak akan menggeserkan hati.
Mereka hanya menjadi batu besar yang semakin lama tersimpan,
makin terasa menyakitkan.

Lubang-lubang hatinya, telah tergerogoti.
Namun benar bukan,
bagaimanapun,
ia harus kembali pada tanggung jawab yang seharusnya ia laksanakan.

akankah perlahan benar pudar?

Dari sekian banyak air mata yang telah aku keluarkan,
hanya satu yang ingin aku jadikan perubahan.
Bahwa setelah itu semua,
tak akan ku biarkan lagi ada yang melihatnya.

Aku belajar, bahwa dengan menangis di depan orang
tidak akan membuatnya berhenti untuk membuatmu menangis,
bukan?
Karena orang lain tak akan pernah paham apa yang ada di pikiran,
walau bagaimana kita menjelaskan.

Lalu, jika diam kembali menjadi suatu pilihan,
apakah ini semua akan benar?


Perlahan, semua memudar.
Hanya menyisakan tanggung jawab yang cukup besar agar semua bisa berjalan.

June 13, 2017

Senja di Kotamu

senja kala itu, di kotamu.
kenangan itu pekat sekali di ingatanku.
di pinggiran pantai kita duduk benar-benar berdua.

entah mengapa,
kita selalu terdiam saat menikmati senja.

debur ombak memecah keheningan,
mengingatkan kita untuk sesekali bersautan.
walau hanya candaan dan sedikit melempar pujian.

ah, rindu sekali.
bukan hanya pada senja,
terlebih pada tuanku di sana.
doakan segera ke sana, pa :'

Yogyakarta - Cilegon, 8 April 2017
Elfira

Bahagia yang Sempurna

Denganmu, duduk berdua di tepi semesta
Bahkan meski hanya berteman hampa
Bahkan meski hanya menatap senja
Bahkan meski tanpa lontaran kata
Jika itu denganmu, sempurna sudah ku bahagia

Cilegon - Yogyakarta, 8 April 2017
Agung

Akhirnya, Kita Bareng Juga!

dua kali saur, tiga kali buka di sini.

bareng suami.

rumah masih berantakan.

tidur masih ketiduran.

sampe janjian mau "malam kamisan", "jumatan", eh kebablasan.


ga tau momen kayak gini bakal keulang lagi, tapi yang jelas, makasih udah banyak kerja keras dalam kepindahan ini.

ngecat sampe masih ada bekas di kaki,

sampe pas jalan sore, ketauan mbak-mbak ditanya "tante udah mandi?"


banyak yang kita lakukan diawal perjalanan, semoga kelak diringankan.

makasih banyak udah mau aku paksa,

"aku mau pindah pas puasa".

dan pada akhirnya kejawab, ternyata ada jabang bayinya, pantesan entah kenapa feeling aja pengen idup barengan sekarang. ga nunggu beberapa bulan lagi kayak rencana.


pengen ngerasain idup suami istri sebelum ada bayi. pengen pacaran sebelum ngidam-ngidam.


makasih udah selalu makan dengan lahapnya walau entah sekarang masakanku makin engga jelas.

entah karena aku lagi hamil apa gimana, tapi aku yang dulu gila asin dan pedes, sekarang sama sekali ga bisa nyicip asin dan pedes.


selamat ber-ramadhan, mari hidup bersama dengan berkah dan kebahagiaan!


Cilegon, 3 Juni 2017

Elfira

Tetaplah dipelukan

akankah rasa yg menggebu dapat bertahan seiring rindu yg perlahan pudar karena jarak yg nantinya tak lagi jadi penghalang? ah, sayang. tetaplah dipelukan.

Kartini..

Kartini, tahun ini bagiku terasa sedikit berbeda.


Entahlah, apa yang aku lakukan sampai saat ini merupakan bagian dari perjuanganmu dulu.


Bagaimana tidak, masih seperti kata-kataku tahun yang lalu.

Aku bebas belajar, bebas memilih pekerjaan, dan kali ini, dipercayai menentukan dengan siapa dan kapan ke pelaminan.


Ah, terima kasih untukmu, Kartini.

Terima kasih pula untuk keluarga yang menjadikanku pribadi seperti ini.


Tak lupa, pada suamiku, yang telah sangat menerimaku serta memberiku keluarga baru yang teramat aku sayangi.


Mati satu tumbuh seribu.

Kartini mungkin sudah tiada, namun semangat juangnya tidak boleh padam begitu saja.

Maju terus para Kartini muda.

Selamat hari Kartini!

Semoga kita adalah Kartini di masa kini.


Yogyakarta, 21 April 2017

Elfira

Doaku untukmu

genap sudah seperempat abad usiamu.


ah, sayang..

mulai tahun ini kita akan menghitung satu, dua, tiga, dan tahun-tahun berikutnya bersama.


terima kasih telah tidak sengaja datang (kembali) ke duniaku.


terima kasih telah menjadikan gurauan pinanganmu menjadi kenyataan.


mungkin kita sama-sama bukan orang terburuk apalagi terbaik dalam menjalin suatu hubungan, tapi, aku cukup yakin kita adalah orang baik, dan akan selalu menjadi seperti itu.


sayang, terima kasih..

untuk rasa yang begitu besar.

hingga aku yang sulit membuka hati ini, akhirnya mengalami jatuh cinta berulang-ulang.


kamu lelaki hebat, membuatku selalu bersyukur atas segala yang kau lakukan.

sampai bete-pun, aku masih tetap jatuh cinta pada caramu.


terima kasih telah menjadikanku utuh,

serta menguatkanku bahkan sebelum aku membagi kelemahan itu padamu.


aku benar-benar menikmatimu, teman kencan hidupku..


tidak hanya untuk hari ini,

doaku untukmu selalu,

semoga kamu menjadi pribadi yang semakin baik ditiap waktu.

menjadi imam terbaik untukku, untuk keluarga kecilmu..


semoga, banyak hal yang kita semogakan segera dapat dikabulkan..

aamiin.


dekap lebih hangat dari biasanya spesial untukmu,

dari Elfira.


Yogyakarta, 16 April 2017


*Tulisan ini aku persembahkan di hari spesial suamiku, Muhammad Agung Pambudi

Semoga yang Sungguh Disemogakan

baru kemarin sampai di kotamu,

kini aku harus kembali ke kotaku.


doa dalam sujud, agar segala impian lekas terwujud.


sungguh, semakin berat rasanya merelakan malam tidur sendirian, atau bangun tanpamu dengan sapa dan senyuman.


ah, sayang..

semoga lekas kita selamanya seranjang.


terima kasih sudah mengantarkanku jauh-jauh kesini, perjalanan sesulit apapun terasa membahagiakan bersamamu..


hati-hati, tidurlah lelap walau sendirian..

sampai bertemu di akhir pekan❤


Cilegon-Yogyakarta, 6 April 2017

Menikahi Masa Lalu

tak banyak yg tau, aku punya sesuatu dari masa lalu, cerita pahit cenderung pilu, itu dari aku.

kamu? sama saja.

karena setiap orang punya cerita dukanya.


aku pun tak tau, mengapa selama ini sulit mengobati pilu itu. namun rupanya, kamu yang tanpa sengaja, bisa meleburkan luka.


aku yang dulunya sulit percaya, dengan tidak sengaja menjadikanmu orang yang ku percaya.


aku yang dulunya sulit mencinta, dengan tidak sengaja sungguh jatuh cinta.


bagaimana tidak, hanya dalam empat jam malam itu, kamu memintaku menikahimu.

ah, bukan, bukan seperti itu..


saat itu, aku bertanya kabar.

mengapa kamu datang sendirian?

kemudian kamu jelaskan apa yang terjadi pada kisahmu sebelumnya.

yah, aku menjadi orang yang sangat berduka mendengar ceritamu.

perjalanan panjang yang pada akhirnya menemukan titik jawaban.

bahkan tak sengaja ku katakan, "ya ampun, jalan Tuhan"


saat kamu balik bertanya, lalu apa yang terjadi padaku, aku sedikit tak mengaku. hingga pada akhirnya, ketauan juga ya.


setelah itu.. satu, dua, tiga kali kamu melempariku dengan pertanyaan yang terselip dari obrolan ringan kita.

"ha pie el, gelem rabi ra ro aku?"

ha ha ha

segitu aja, sudah diulang tiga kali,

lalu aku sampaikan..

"nek ngomong karo cah wedok ki ati-ati. ojo ngawur, wong lanang ki sing dicekel omongane. wes ping telu lho koe ngomong ngene. nganti ping sepuluh, tak iyoni, emang ra mumet?"


ha ha ha, ketawa aja sih kita.


empat jam, dan kata-kata itu benar-benar keluar selama sepuluh kali.


"uwes ping sepuluh lho" kataku.

kamu pun menjawab "lhayo, aku yo ngitung kok. ha pie? gelem ora?"


ha ha ha, kelewat emang.

yauda aku tanggapi aja becandaannya.


"lha nek gelem taun iki yo ayo" kataku.

kamu pun jawab "lha emang aku pengen taun iki yoan. aku pengen nikah muda, pie?"


setelah beberapa detik, aku pun melanjutkan kekonyolan itu "yo nek gelem April iki"


dan kejadian itu terjadi di bulan Desember. empat bulan sebelum April. konyol.


setelah hari itu, aku menyadari dengan segala usaha yang kamu lakukan.

tak hanya mendekatiku, kamu langsung mengenalkanku pada keluargamu.

tapi entah yang masih menjadi misteri,

mengapa semudah itu keluargamu mengijinkanku masuk kedalam situ?

yah, pasti Tuhan menunjukkan segala kemudahan. segala perasaan kita mungkin sudah dipersatukan.

bukan mungkin lagi, pasti.

karena entah mengapa, dari sholat-sholat malamku, aku makin ditunjukkan kemantapan di hati.


mungkin kamu ingat, tiga hal yang aku nilai darimu secara garis besar..

pertama, bagaimana kamu memperlakukanku dengan sangat sopan dan baik, membuatku merasa menjadi wanita yang sangat dihargai;

kedua, bagaimana kamu menghadapi problem, dengan berbagai sikap yang kamu tunjukkan, termasuk ke aku;

ketiga, kamu masuk pada semua kriteria yang pernah aku sampaikan ke seseorang yang pernah bertanya padaku "emange nggolek calon suami sing koyo opo mbak?"

yang nakal tapi takut Tuhan, yang pinter tapi nggak keminter, yang mau kerja keras tapi nggak gila kerja.

yap! paket komplit sesuai apa yang aku harapkan.


cerita berlanjut..

hingga pada akhirnya,

akhir bulan pertama tahun ini, kamu pulang (lagi).

kepulanganmu yang ketiga kalinya menemuiku.

dan saat itu kita dipanggil ibuk dan bapak,

didudukkanlah kita di depan mereka.

"kowe yakin karo anakku? tenan wes yakin? tenan arep menikah?"

seputar pertanyaan seperti itu yang ditanyakan ibuk ke aku.


setelah itu, minggu pertama bulan kedua tahun ini,

aku berlibur ke rumah mama.

belum cerita ke mama, aku punya cerita.

eh, kamu memberi kabar mengejutkan.

"dah siap belom, aku mau nelfon. koe mesti kaget"

dan kamu sampaikan kalau ibuk udah punya hitungan hari baik untuk lamaran dan nikahan.


bulan ketiga tahun ini.


"what? tenanan? ha ha ha. tenanan nih??"


setelah itu, kuceritakan pada mama.

heboh semua.

pada papa, biasa aja. suruh ke bude aja. ha ha ha. begitulah.


saat itu yang aku pikirkan cuma satu!

pengen cepet pulang Jogja,

urus administrasi KUA!


Tuhan beneran punya kendali.

Dalam dua hari, semua urusan beres.

dapet tanggal dan jam sesuai dengan rencana. sempurna!


berhubung bude ke luar negeri sampai akhir bulan kedua, jadilah mengurus segalanya menunggu bude pulang.

dan pada akhirnya, semua berjalan lancar.

acara kenalan diakhir bulan kedua,

acara lamaran diawal bulan ketiga,

dan hari ini, 

hari ke dua puluh lima bulan ketiga, pukul sepuluh pagi, kita menikah.


sederhana.

keluarga,

tetangga,

orang-orang terdekat yang kita kenal saja.

sempurna!


yah, seperti itulah kekuatan doa.

bismillahirrohmannirrohim.


jadi,

bagi kalian yang banyak bertanya,

"yakin?"

secara personal meragukan kami,

biarkanlah kami begini.

insha Alloh kasih sayang Tuhan selalu bisa kasih jalan.


kami memang secara tidak sengaja dipertemukan.

namun kami dengan sengaja mencari jalan agar kami dijodohkan oleh Tuhan.


dengan pertemuan yang tidak disengaja ini,

dengan segala persiapan dalam waktu sesingkat ini,

dengan segala sesuatu yang coba kita upayakan sesederhana mungkin,

semoga akan menjadi awal yang indah dari cerita perjalanan cinta kita.


kita,

menikahi masa lalu.

kamu, yang berasal dari masa laluku.

mari kita nikahi masa lalu kita agar melebur jadi satu keabadian yang disempurnakan.


mohon doakan kami agar sakinah, mawadah, wa rohmah selalu menyertai kami,

aamiin.





Yogyakarta, 25 Maret 2017

Elfira


*Tulisan ini sebagai pengingat untukku pribadi. Bagaimana Tuhan selalu memiliki jawaban terbaik atas doa dan usaha manusia. 


October 29, 2015

Pengingat Terbaik Tuk Kita


Apalagi yang disisakan dari sebuah perpisahan?
Hanya ada kenangan,
banyak pula kepiluan.


Ah, tidak.
Bukankah kenangan adalah pengingat kita?
Bahwasanya kita harus selalu bersyukur pada-Nya,
mengenai apa-apa saja yang selama ini menjadi asa.
Nantinya, akan menjadi pengingat terbaik untuk hidup kita.

October 5, 2015

Lalu, Kemana Kamu?



“Aku bukan orang yang keras kepala dan tidak punya maaf.
Aku juga pernah lembut sebelumnya,
Sebelum berulang kali aku dihantam masalah kehidupan.
Kau masih ingat beberapa hari lalu kau bilang, aku hanya punya dua warna hitam dan putih dalam hidupku?
Tapi aku tidak melihat apapun selain warna hitam.
Karena hidup terus mengambil apapun yang aku miliki.
Tapi aku ingin berubah sekarang.
Aku ingin memiliki kembali diriku dari masa kecilku dulu.
Kau sudah berjanji bahwa kau akan selalu mencintaiku selamanya, sekarang aku berjanji padamu untuk berubah.”

“Sssst... jangan. Jangan berubah.
Pertahankan terus harga dirimu.
Tegakkan terus kepalamu.
Harga dirimulah yang bisa membuatmu tegar meski banyak penderitaan di sekelilingmu.
Itu yang membuat mencintaimu sulit, tapi bagitu indah.
Itulah yang membuatku mencintaimu seperti ini.
Aku harus mengerti tentang hal ini.”