February 13, 2014
Bukan Begitu, Tuan?
Aku lelah dipermainkan,
oleh hiruk pikuk rasaku sendiri
Aku lelah selalu mencari,
siapa yg sebenarnya pas dihati.
Aku lelah berharap,
akan terwujudnya mimpi yg mereka ceritakan layaknya dongeng malam.
Aku lelah dengan semua penyesuaian yg ujungnya lebur jua.
Mungkin sekarang saatnya,
aku berserah bahwasanya apa yg pas dihati tak lagi untuk dicari.
Ia akan datang sendiri dan kami akan siap menikmati kebersamaan hidup ini.
Bahwasanya mimpi,
akan indah jika ada tokoh yg memainkan perannya.
Maka ia akan datang bersama alur cerita yg akan kami jalani.
Bahwa kelak,
ia akan mengajakku utk kembali hidup.
Memulai sesuatu tanpa hal yg berlebihan.
Menyusun dari awal.
Agar diakhirnya ada hasil yg memuaskan.
Bukan begitu, tuan?
February 6, 2014
Sampai Pada Waktu, Yang Kita Tuju
Bukan bermaksud sekedar mencarimu saatku serapuh itu,
tapi lebih dari kata sekedar,
aku memang mencari kasihmu dengan rasa sabar.
Dengan seluruh rasa yang amat besar,
Maka akan tibalah saatnya aku menemukanmu dalam sebuah ruang temu.
Bunda, aku mencari pelukanmu.
dengan seluruh tenaga yang kukumpulkan,
dan dengan seluruh asa yang kutancapkan pada harap.
Dimana akan kuserahkan seluruh rindu hanya tertuju padamu.
Tetaplah hangat, sampai pada waktu yang kita tuju.
February 5, 2014
Ma, Percayalah..
Tuhan, melalui ia Kau beri aku rasa.
Benci awalnya.
Anak kecil yang tak tau apa apa.
Dulu aku mengira bahwa cinta berarti kesakitan.
"Ma, aku memang tak pernah hidup bersamamu,
Maaf aku hanya bisa selalu rindu dan memelukmu erat ketika bertemu.
Aku menyayangimu dalam setiap doa doaku."
Perpisahan.. kerinduan.. kesendirian.. dan kesunyian.
Namun kini aku benar benar mengerti..
bahwa dari sakit, dari pisah, dari rindu, dari sendiri, dan sunyiku
semua tertuju padanya.
Cntamu selalu hidup dalam setiap detak jantungku.
Dalam darah mengalir darah pengorbananmu.
"Ma,
percayalah terkadang cinta memang punya cerita yang ia rencanakan
akan indah pada waktunya."
Pada Waktu, Kita Mencari Jawabannya
Kamu adalah pembuat rindu, serta candu.
Kamu terkadang semu dianggap, namun nyata dalam harap.
Sayang, apa kamu tau perasaanku? Ah, pastilah kau tau.
Sayang, rasa ini sungguh menggerogoti, dimana ada tawa dan kita yg mengisi.
Sejauh jarak membelenggu, tak mampu menutup bahagiaku akanmu.
Sayang, bersabarlah; pada waktu yg akan tiba; ketika kita berjumpa.
Kita, Mungkin Tak Pernah Ada
Aku fikir, aku adalah orang yg berani utk mencintai.
Aku berani memperlakukan 'mereka' dengan cara yg sebaik2nya,
setulus2nya, dan seberjuang itu.
Kepada dirinya, keluarga, teman, bahkan lingkungan.
Namun seringnya,
diakhir aku selalu merasa ada yg salah dlm setiap hubungan.
Maka selalulah aku berhenti pada sebuah titik, keraguan.
Dimana aku, kembali menjadi diriku.
Apa sebenarnya aku adalah orang yg terlalu serakah?
Yang menginginkan kesempurnaan kisah cinta yg aku impikan.
Yang selalu ragu,
dan tak mampu percaya akan bahagia yg mampu diciptakan 'kita'.
Subscribe to:
Posts (Atom)