February 13, 2014
Tampaknya Kita Seperti Ditakdirkan Bersama
Jogja..
Taukah bahwa engkau istimewa?
Sejenak aku melihat kebelakang.
Banyak rasa yg kau buat untuk kami.
Banyak suka dan duka yg terjadi di sini.
Dalam hidup dua puluh taun ini,
aku merasa benar-benar hidup.
Bencana yg beberapa kali aku rasakan di sini
tak sedikitpun membuatku ingin pindah
Justru engkaulah pembuat sejarah.
Nampaknya kau lebih istimewa.
Karena musibah sejatinya adalah hal yg diberikan Tuhan utk mengetuk kita.
Dan aku bersyukur memiliki rasa.
Bagaimana rasa itu menjadi begitu peka dalam hatiku.
Membuat selalu bersyukur ada hari esok setelah itu.
Itulah istimewamu,
membuat hatiku begitu menyatu padamu.
Tak itu saja sebenarnya,
tebaran cinta,
bahagia, dan
cerita selalu ada.
Pasti ada saja di Jogja.
Jogja, engkau istimewa.
Pastikan Bahwa Kau Percaya
Tuhan,
semalam aku terjaga dalam kabar yg beredar,
dari segala hal yg 'menakutkan'
Maka aku tertidur dalam kekhawatiran.
Tuhan, pagi ini sendu sekali.
Bagaimana kabar seluruh saudaraku yg terkena bencana disana?
Pasti, tetap Kau jaga.
Lalu, Tuhan.
Bagaimana kabar saudara saudaraku yg setiap harinya aku temui disini?
Ya, diluar rumahku ini.
Ya, yg selalu aku temui ketika berangkatku dari sini.
Adik kecilku yg menjajakkan koran,
yg selalu berlari ke arahku melempar senyuman sambil berkata 'ada berita bagus hari ini, mbak'..
Kakak kakakku yg memainkan musiknya,
yg selalu memukul keras alat dan bernyanyi dengan seluruh semangatnya.
Dan seluruh dari mereka lainnya,
yg tak punya tempat untuk berteduh,
yang kami sebut tempat itu, rumah.
Ketika aku sesak atas debu ini dirumah,
apa yg terjadi dengan mereka?
Bahwa pada-Mu lah sesungguhnya tempat berlindung dari segala macam khawatir,
dan ketakukan.
Semoga semua,
berjalan sesuai yg direncanakan,
bahwa ini sebuah ujian.
Pasti akan ada lulus,
dan hasil memuaskan.
Bersabarlah,
saudara saudaraku.
Tuhan bersamamu.
Dari Jogja, untuk kita semua.
Do'a khusus untuk bencana gunung Kelud.
Begini, Ya
Kini, biar aku buat aturannya.
Jadi begini..
Bahwa ketika kamu putuskan untuk datang padaku,
maka bawalah segala tentangmu.
Dirimu, hatimu, ceritamu, dan kerelaanmu.
Aku mau kita menyatu..
Karena saat aku mengijinkanmu datang padaku,
telah kusiapkan semua milikku untuk kubagi padamu.
Jadi, apa begini sudah bisa menguatkanmu untuk tetap maju?
Ya, padaku.
Sampai bertemu, pada kisah yang akan menyatu.
Kamu, dan Segala Mimpiku.
Aku sedang akrab berkawan dengan sang waktu.
Saat menyadari, bahwa yang bisa kulakukan adalah menunggu.
Tak Ada Lagi Rumah
Ketika kita tak lagi terlarut dalam kata,
maka kita tak lagi kita.
Ketika kamu tak lagi mau tau akanku,
maka aku akan kembali menutup rapat pintuku.
Bahwa saat itulah kamu sudah menjadi sebuah kenangan lalu,
yang hanya akan mampu seperti itu.
Maka jika kenangan datang mengetuk pintu rumah,
katakan saja bahwa aku telah pindah.
Subscribe to:
Posts (Atom)