October 8, 2019

Tentang resign yang terburu-buru

Akhirnya aku nulis!
@annisast udah lama banget memotivasi aku secara tidak langsung buat nulis, tapi entah kenapa semua draft nggak enak rasanya untuk aku publish. Apa karena tulisan-tulisanku emang dasarnya curhat ya, makanya ngerasa nggak pantes dibaca khalayak.
Saat ini kak Icha lagi bahas tentang resign. Tergelitik kembali. Biasanya aku cuma respon pembahasan dia di Instagram Story, but now aku pengen sekalian tulis aja di blogpost.

Mulanya April 2017, bulan pertama menikah masih LDR dan aku tinggal di rumah mertua. Banyak yang bilang awal pernikahan emang cobaan banyak amat ya hahahaha. Kerasa sih. Untungnya aja April-Mei itu banyak longweekend dan suamiku rajin banget bolak balik nyamperin aku. Tapi kemudian seketika aku terguncang pas ibu mertuaku bilang ke aku, "Terus besok gimana, kudu dipikirin, masa mau bolak balik, apa mau tetep kerja disini atau gimana". Yang saat itu kayaknya otakku belum sempurna atau faktor hamil muda masih sensitif banget, aku langsung mutusin sendiri untuk OK AKU BAKAL SEGERA RESIGN.

Rencana awal aku dan suami mantep tentang kapan aku resign, yaitu akhir tahun. Dimana aku bakal udah hamil 9 bulan untuk tinggal bareng dia. Tapi ternyata beberapa situasi nyadarin aku, pertama: fakta bahwa kami pengantin baru dan tidak saling kenal. Kami baru bertemu Desember 2016 akhir dan menikah Maret 2017, 5 tahun enggak pernah ketemu dan komunikasi sama sekali setelah lulus SMA, ngebuat aku ngerasa kalau kami perlu penyesuaian dan kenal lebih jauh lagi sebelum status berubah dari suami-istri ke ayah-ibu.
Kedua: fakta bahwa sesantai apapun, sepercaya apapun kami satu sama lain, ada aja yang ngebuat kami mikir kalau bakal ada kesempatan untuk selingkuh. Oke, ini bukan tuduhan ke pasangan lho. Situasinya gini, pernah nggak sih kamu ngalamin masa dimana kamu tu engga suka sama orang tapi orang itu ngebet banget ke kamu, walaupun kamu udah nikah, nah situasi-situasi yang begini nih yang bisa bikin salah paham kalau orang ketiga ada diantara kita. Ketiga: fakta bahwa YAUDAH SIH DISANA (IKUT SUAMI) BAKAL GAMPANG NYARI KERJAAN JUGA. Tetoooot! Emang mulut harus banyak ngomong doa, jangan asal ngegampangin yah. You know what I mean.

Oke setelah beberapa fakta itu, bisa aku simpulin sih. Apakah nyesel resign? Sebenernya engga. Engga nyesel karena alasan-alasan itu. Ditambah lagi, ternyata aku tipe yang suka banget di rumah bareng anak. Pas hamil emang berat banget, sensitif, berantem sama suami karena nggak ada yang bikin sibuk. Tapi semenjak anak lahir, seketika jadi orang tersibuk. Termulti talenta. Teraktif. Terbaik melakukan semua hal. TERCAPEK JUGA HEHEHE. Aku kerjain semua sendiri, nggak ada tuh bagi-bagi tugas ke suami ya karena emang dia nggak mau juga. I'm happy. Sibuk sama anak bikin happy. Tapi kadang juga pengen diapresiasi bahwa aku ngelakuin hal-hal super, walaupun nggak pernah diapresiasi, yaudah nggak sedih juga sih HAHAHAHA. Yang penting aku bangga sama diri sendiri. Apresiasi dari diri sendiri yang paling penting, kan?

Jadi, kenapa sekarang kepengen kerja lagi? Pertama: duit. Nggak boleh ngomongin rumah tangga, tapi kalau semua orang punya perhitungan dan rencana masa depan, nggak bakal tabu kan kalau aku bilang pengen punya duit banyak. Kedua: aku ngerasa anakku sudah besar, sudah cukup baik aku urus, dan aku pengen dia nyobain sekolah sama temen-temennya. Ketiga: pengen nantang diri sendiri aja, kalau aku kerja apa rumah bakal berjalan seperti sekarang juga? Kalau aku kerja apakah aku akan punya power untuk atur tugas rumah tangga? Penasaran.

Oke, selagi itu belum terjadi. Marilah belajar dan mempersiapkan diri. Semangat!

November 8, 2018

Bisa nggak sih?

.
setelah wisuda,
aku belajar untuk menjaga ucapanku tentang kelulusan orang lain;
saat menjalani pekerjaan,
aku belajar untuk tak bertanya pada orang lain tentang berapa besar yang ia dapat;
saat memutuskan untuk kuliah lagi,
aku tak mau disuruh-suruh mengajak yang lain untuk "ayo lanjut kuliah"
saat merasakan kebahagiaan menjadi pengantin baru aku belajar untuk tidak bertanya pada orang lain tentang: "kapan nyusul?"
saat mendapati bahwa aku mengandung,
akupun belajar tak membebani pertanyaan kepada orang lain dengan "gimana, kamu udah isi?"
saat aku memilih menjadi ibu rumah tangga dan membesarkan anakku di rumah,
aku semakin banyak belajar dan membaca sudut pandang.
aku belajar untuk tidak mencampuri urusan orang dengan pertanyaan-pertanyaan.
aku belajar bahwa setiap orang punya perjuangan.
aku belajar memahami kondisi orang, memahami keputusan-keputusan.
aku belajar untuk mencerna bahwa memang tiap orang itu beda-beda, dan berbeda itu tidak apa-apa.
.
sebagai pengingat untuk
stop memberi saran tanpa diminta,
stop menyudutkan sebuah pilihan,
stop membandingkan dan berbicara di belakang.
.
jujur, buatku menjadi ibu menguras segala waktuku untuk mempedulikan orang lain.
jika aku masih peduli padamu, berarti kamu adalah spesial untukku.
.
***
dulu, senengnya punya temen banyak, kemana-mana ada aja yg kenal,
ada aja yg ngajak ngobrol.
padahal mungkin cuma kenal aja.
padahal mungkin banyak diomongin nananina.
padahal mungkin mereka ga nganggep temen.
ya karena kenal memang belum tentu temenan :)
.
sekarang jadi tau,
untuk tuker pikiran ataupun minta saran,
nggak harus nyari seorang teman,
tapi yang jelas harus yang berkenan hehe
.
Elfira,

yang semakin lelah mencari teman yang -- "kita bisa nggak sih, santai aja"

January 18, 2018

hello, world!

3 Januari 2018

Telah lahir putra pertama kami ‘Arka Bhadrika Rasendria’.
Nama ini kami ambil dari bahasa Sansekerta.
Arka berarti matahari;
Bhadrika berarti gagah berani;
Rasendria berarti cerdas, berhasil dengan baik, beruntung..

Jadi dengan nama tersebut, besar harapan kami agar kelak Arka menjadi lelaki yang gagah berani, cerdas, berhasil dengan baik, dan selalu beruntung seperti matahari yang dapat menyinari dunia.

Mohon doa restu agar Arka dapat tumbuh dengan sehat serta menjadi anak yang sholeh, aamiin.

Dengan penuh cinta,
Agung & Elfira



October 15, 2017

Tak selemah itu

Jika memang pada akhirnya aku tak berhasil meyakinkan diriku sendiri,
maka kita saatnya aku merubah prinsipku.

Pernikahan sejatinya memang untuk ibadah.
Sudah cukup disitu saja.
Maka dengan itu,
aku tak akan lagi merasa “kekurangan kasih sayang”.

Maka aku hanya akan melakukan segala sesuai ajaran.
Tak perlu lagi segala rasa berlebihan.
Toh tak ada bedanya.
Komitmen hanya menua bersama, bukan?

Dengan itu aku tak akan pernah lagi merasa bahwa tak seimbang.
Jadi kalau kau memilih melakukan banyak kesalahan,
kau sendiri yang menanggungnya.
Ingat bahwa aku sering mengingatkanmu.
Walau kau sendiri yang sering mematahkan itu.

Hubungan tak selemah itu.

Di Ujung Persimpangan -yang Kebanyakan Orang Menyebutnya “Masa Lalu”

Sebenarnya apa yang membuat seseorang bertahan untuk selalu melakukan hal yang sama secara berulang?
Seperti memikirkan seorang lain yang sebenarnya hal itu akan sangat menyakitkan.
Pernikahan memang sebuah komitmen untuk “menua” bersama. Melakukan segalanya demi ibadah semata.
Namun, apakah tak apa jika satu pihak terus merasa tak nyaman akan sesuatu yang membelenggu?
Sedang pihak kontra, ia serasa tak kian paham bahwa apa yang ia lakukan membuat tak nyaman.
Namun terkadang, semua orang memilih diam.
Enggan membahas karena ketakutan akan segala jawaban yang tentunya bisa lebih menyakitkan.
Entah penjelasan relevan ataupun tidak, pasti telah menggores luka pada perannya masing-masing.
Sedang satunya, ia hanya berusaha menenangkan semua kecurigaan sementara.
Bertingkah meredam amarah yang kelak sebenarnya bisa kembali.
Pada titik ini, kuberikan kembali argumenku yang lalu.
Bahwa yang mampu mengerti diri kita adalah kita sendiri dengan segala pikiran logika yang kadang tak sama dengan orang lain.

Benar bukan?